Iri hanya akan menyakiti hatimu,
teruslah berdiri dan yakini hidup ini sangatlah berarti.
Ditengah teriknya matahari siang ketika gerombolan anak-anak yang masih mengenakan kemeja putih dan celana pendek berwarna merah lengkap dengan topi yang dipakai dengan terbalik berlogokan belencong menyala bermotif garuda dan tertulis diatasnya Tut Wuri Handayani,
mereka sibuk memperebutkan sebuah bola demi menggiringnya ke sebuah wilayah yang telah ditandai dengan tumpukan sepatu-sepatu di kedua ujungya dengan jarak dari satu sisi ke sisi lainnya hanya berkisar 3 meter dan terdapat seorang anak yang berperan sebagai penjaga wilayah tersebut agar tidak ada bola yang masuk ke wilayahnya.
berlarian kesana kemari, teriakan atau amarah kadang meluap layaknya instruktur handal disertai dengan canda-tawa yang terlontar dari sebuah ejekan-ejekan kecil mengisi keheningan dilapangan yang terbuat secara alami di pinggir desa dibelakang sekolah mereka.
Tiba-tiba mereka menghentikan kegiatannya tersebut demi adanya sebuah benda besar yang menghalangi matahari mereka, kala itu kendaraan super besar dengan suara yang bising dan mempunyai kemampuan menyerupai seekor burung melintasi area permainan mereka,
semua menghadapkan kepalanya ke langit seraya diam antara takjub, iri, dan memohon sesuatu dalam hatinya.
![]() |
| http://us.images.detik.com/content/2014/09/02/6/pesawatterbang.jpg |
"Pesawat...minta uang!"
"Pesawat...turunkan makanan!"
"Pesawat...mari turun!"
dan mereka membatin dalam hatinya masing-masing
"Sungguh nikmatnya jika suatu saat nanti, bisa duduk tenang berpergian menggunakan burung mesin yang dilapisi baja-baja menikmati keindahan Indonesia dari atas sana"
Sementara diwaktu yang sama didalam burung baja tersebut
seorang supir yang nampak sedang memainkan panel-panel diruang kemudi pesawat kemudian sedikit melirik kebawah menatapi lapangan luas yang dikelilingi pohon-pohon rindang yang bergoyang tertiup angin kencang efek dari melintasnya burung yang sedang ia kendarai ini,
berubahlah raut wajahnya, ujung bibirnya melebar hingga membuat lesung dipipinya, matanya disipitkan terfokus pada anak-anak yang sedang asyik bermain bola dilapangan tersebut.
Timbullah rasa rindu akan kampung halamannya yang menyerupai pemandangan dibawah, lama sudah ia tak mengunjungi keluarganya di rumah, mungkin bertambah banyak garis-garis di kulit orang tuanya juga sudah tumbuh dewasa dan cantik kini adik-adiknya dirumah, hampir tidak pernah lagi ia bermain bersama teman-teman sebayanya yang dahulu berjuang bersamanya dibangku sekolah, caranya berhubungan dengan keluarga dan teman-temannya itu mungkin hanya dari sekedar percakapan-percakapan kecil melalui jaringan telepon yang kadang dilakukannya ditengah-tengah kesibukan pekerjaannya.
Keluarga pasti menantinya dirumah, tapi apalah daya seorang pilot yang sibuk mengangkut dan mengantarkan penumpang dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Resiko pekerjaan amatlah besar, keselamatan penumpang termasuk keselamatan dirinya sendiri yang menjadi tanggungannya.
Dari atas langit tidak jelas dan tidak tahu pasti mengenai waktunya mampu untuk pulang menyapa keluarganya dirumah dan berkumpul bersama teman-teman seperjuangannya atau pula datang hanya sebagai jasad yang tidak bisa berbuat apapun dan hanya memberikan kenangan bagi keluarga dan teman-teman yang datang untuk menemuinya nanti.
Rindu itu kini terpendam dihatinya, rasa iri dan memohon sesuatu dalam hatinya pun tak terelakan lagi
"Semoga masih diberi kesempatan bagi diriku untuk pulang kerumah menemui keluarga tercinta dan berkumpul bersama teman-teman lainnya"
Sorong-Papua Barat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar